Implementasi Pendidikan Karakter dalam Kegiatan MOS

July 12, 2011 by   - dibaca 1,783 kali
Filed under Uncategorized

Setiap awal tahun pelajaran baru, secara rutin sekolah dalam berbagai jenjang menggelar Masa Oritentasi Sekolah (MOS). Tujuannya antara lain untuk: (1) memperkenalkan siswa pada lingkungan fisik sekolah yang baru mereka masuki; (2) memperkenalkan siswa pada seluruh komponen sekolah beserta aturan, norma, budaya, dan tata tertib yang berlaku di dalamnya; (3) memperkenalkan siswa pada keorganisasian; (4) memperkenalkan siswa untuk dapat menyanyikan lagu hymne dan mars sekolah; (5) memperkenalkan siswa pada seluruh kegiatan yang ada di sekolah; (6) mengarahkan siswa dalam memilih kegiatan ekstrakurikuler yang sesuai dengan bakat mereka; (7) menanamkan sikap mental, spiritual, budi pekerti yang baik, tanggung jawab, toleransi, dan berbagai nilai positif lain pada diri siswa sebagai implementasi penanaman konsep iman, ilmu, dan amal; dan (8) menanamkan berbagai wawasan dasar pada siswa sebelum memasuki kegiatan pembelajaran secara formal di kelas.

Namun, harus diakui, pelaksanaan MOS selama ini tak jarang terjebak pada pola indoktrinasi yang mewujud dalam bentuk perpeloncoan dengan memasukkan unsur-unsur kekerasan dan pemaksaan kehendak. Para siswa baru dipaksa menjadi pribadi-pribadi penurut seperti robot yang hanya taat pada komando. Hilanglah sikap kritis, kreatif, dan kemerdekaan berpikir anak-anak bangsa yang hendak menimba ilmu di bangku sekolah itu. Dengan dalih untuk menjadikan siswa baru sebagai sosok yang patuh, taat, dan disiplin, mereka yang terlibat dalam kegiatan MOS tega menanggalkan nilai-nilai kemanusiaan demi memenuhi hasrat purbanya. Padahal, apa pun dalih dan motifnya, cara-cara kekerasan ala masyarakat purba untuk menggembleng para siswa baru agar kelak menjadi pribadi yang tangguh dan berkarakter jelas amat bertentangan secara diametral terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang dianut oleh masyarakat beradab. Kalau praktik semacam itu terjadi dalam dunia pendidikan kita, jelas kelak mereka akan menjadi generasi pendendam yang akan terus mewariskan cara-cara tidak manusiawi itu pada setiap pelaksanaan MOS. Upaya dunia pendidikan untuk melahirkan generasi yang cerdas dan berkarakter pun akan mengapung-apung dalam bentangan slogan dan retorika belaka.

Dalam konteks demikian, kita sangat mengapresiasi upaya Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) yang melarang adanya praktek kekerasan dalam kegiatan MOS dan Ospek (Orientasi Pengenalan Akademik). Sekjen Kemendiknas, Dodi Nandika, sebagaimana dilansir berbagai media beberapa waktu yang lalu, mengatakan bahwa MOS dan Ospek selama ini sudah lazim diidentikkan dengan kegiatan perploncoan. Di dalamnya, siswa baru menjadi bulan-bulanan kakak angkatan mereka. “Pada intinya, dalam MOS atau Ospek, mohon dilakukan dengan tatacara yang tidak menimbulkan kekerasan,” tegas Dodi Nandika.

Berkaitan dengan adanya upaya serius untuk membebaskan MOS dari berbagai unsur kekerasan dan perploncoan, sekolah juga perlu merancang agenda yang cerdas dan mencerahkan melalui berbagai bentuk kegiatan yang menarik dan menyenangkan. Materi MOS tidak lagi bercorak teoretis dan kognitif semata, tetapi juga mesti didesain secara implementatif dan praktis. Sudah bukan saatnya lagi para siswa baru “dikarantina” dan disekap dalam ruang yang pengap dan menegangkan sehingga bisa mematikan kreativitas dan hasrat untuk berpikir secara kritis. Bahkan, jika memungkinkan para siswa baru diajak untuk memperbanyak melakukan kegiatan simulasi dan praktik nyata.

MOS juga bisa menjadi media yang strategis untuk mengimpelementasikan pendidikan karakter yang dalam beberapa tahun terakhir ini sempat “menggelisahkan” banyak kalangan akibat meruyaknya atmosfer kehidupan berbangsa yang tidak lagi berpihak pada nilai-nilai kesantunan dan keluhuran budi. Lihat saja panggung kehidupan sosial kita yang belakangan ini belepotan dengan berbagai praktik kekerasan, korupsi, manipulasi, dan kebohongan-kebohongan. Jika sejak dini tidak ada upaya serius untuk menghapus bayangan sikap anomali semacam itu dari memori anak-anak bangsa, bisa jadi kelak mereka akan mengekor dan mempraktikkan apa yang mereka saksikan secara telanjang itu dalam kehidupan sehari-hari. Jika hal itu benar-benar terjadi, jelas akan menjadi petaka besar buat bangsa kita yang sejak dulu dikenal sebagai bangsa yang santun, ramah, bermartabat, beradab, dan berbudaya tinggi.

Menjelang tahun pelajaran baru, perubahan mindset para pemangku kepentingan pendidikan perlu menjadi sebuah keniscayaan. Kalau institusi pendidikan masih diyakini sebagai “kawah candradimuka” peradaban, maka dunia persekolahan kita harus steril dari berbagai unsur dan praktik kekerasan. Sebaliknya, upaya dialog, diskusi, dan curah pikir dalam suasana interaktif yang akrab dan menyenangkan harus menyertai keseharian siswa di sekolah. Karakter bukan untuk diajarkan, melainkan dibangun atau dibentuk dari diri sendiri dengan menginternalisasi nilai-nilai yang bersumber dari agama, filosofi, atau budaya yang menjadikan diri sendiri sebagai pengawas. Dalam konteks demikian, pola keteladanan, persuasi, dan dialog bisa menjadi pilihan yang jauh lebih baik ketimbang pola-pola berkhobah dan indoktrinasi yang cenderung kaku dan membosankan.

Leave a Reply

 
Layanan ini diselenggarakan oleh TELKOM SOLUTION untuk dunia pendidikan di Indonesia. Mari kita majukan
bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna pada dunia pendidikan Indonesia.